Senin, 15 November 2010
Jumat, 05 November 2010
Duka Pertiwi Duka Kita "Untuk Mentawai Dan Merapi"
Duka kita Duka Pertiwi inilah tema yang dipakai oleh anak-anak Fakultas Sastra dan Budaya khususnya teman-teman BEM FS&B dan teman-tema HMJ yang ada di FS&B Ukhair pada tanggal 30 Oktober 2010 dengan rasa kebersamaan kita anak-anak bangsa turut merasakan penderitaan teman-teman dan saudara-saudara kita yang ada di mentawai dan di kawasan merapi.
pada jam 08:30 tepatnya di depan kantor gubernur lama (suwering/tapak 1)mengadakan penggalangan dana dalam bentuk ngamen jalanan di seputaran pedagang kaki lima yang ada disana.
langkah, keringat, dan suara yang kami keluarkan tidak seberapa bila dibandingkan dengan penderitaan yang di alami saudara-saudara kita yang ada disana, namun apa yang kami berikan ikhlas dari hati yang paling dalam hanya untuk membantu meringankan sedikit beban yang mereka alami.
tapi satu hal yang kami semua tidak pernah lupa adalah kebersamaan kita sebagai anak bangsa.
terima kasih buat teman-teman yang ikut berpartisipasi dalam penggalangan dana pada malam itu, setiap langkah dan sumbangan dari hati untuk kebaikan muda-mudahan mejadi doa dan berkah bagi kita semua.
AMIN.....
Foto Grapher Maluku Utara
HASIL FOTO KARYA UMAR AMMARIE
MENGENANG KEMBALI SANG FOTOGRAFER TERNATE
UMAR AMMARIE
Hampir seluruh perjalanan hidup Umar Ammarie di tumpahkan untuk merekam sejumlah sisi kehidupan masyarakat di Ternate dan pulau-pulau sekitarnya. Melalui kesaksian sebuah kamera dan kemampuan menangkap dinamika yang tengah tumbuh di masyarakat, beliau menelusuri sisi kehidupan tersebut dan merekamnya dalam gulungan seluloid. Karena menurutnya foto merupakan media yang berfungsi sebagai bahan ekspresi dari suatu kenangan. Umar sendiri di sebut sebagai “potret hidup yang terus mencari jatidirinya”. Namun menurut pengakuan dirinya, ia berpendapat “Fotografi adalah masalah kepekaan seorang manusia yang berusaha menangkap realitas dari lingkungannya”.
Ia lahir dari keluarga Abdulah Ammarie dan Fatma Albugis. Keduanya tinggal di Ternate. Sang ayah hanya pedagang kecil, sedangkan ibunya banyak berperan dalam ekonomi keluarga. Dengan bantuan sebuah vorno, ibunya membuat kue dan sekalugus sebagai penjual. Umar sendiri yang adalah anak ke 5 dari enam bersaudara, dilahirkan kembar. Saudara kembarnya Ali, meninggal sejak kanak-kanak.
Ia lahir pada tanggal 23 November tahun 1932 di kampung Falajawa 1. Yang teringat dari masa kecilnya ialah suasana kehidupan “kota’ Ternate. Falajawa yang terletak begitu strategis di sebelah timur kota dan diapit oleh dua dermaga, (dermaga A. Yani dan dermaga Residen) telah menjadi kawasan yang ramai sepanjang masa. Dengan gunung Tidore yang tegak berdiri di depan pulau Maitara di selatan, serta kesibukan kapal dan perahu hilir mudikdi depan, Falajawa menjadi kawasan yang begitu hidup. Dari sini Umar bisa menyaksikan saat-saat ketika matahari merah tembaga merekah dari balik punggung Halmahera. Di atas tanggul baton yang memanjang sepanjang pantai itu, Umar juga dapat mengikuti siluet camar dan burung-burung pantai dan beranjak pulang ketika gerak bulan merangkak perlahan dari tempat perpaduannya dan menyisakan kilau cahayanya beringsut-ingsut di muka laut. Umar juga telah terbisa menyaksikan lidah-lidah ombak kecil menjilati pangkal tanggul atau ketika mencumbu genit kaki-kaki kecil anak-anak pantai. Dengan latar belakang geografi seperti itulah Umar tumbuh. Rasanya sulit di sangkal kalau pengalaman seperti ini tidak turut mengasah nuansa artistik dari hasil-hasil karya fotografi Umar.
Di tahun-tahun sesudah proklamasi kemerdekaan, Umar memasuki sekolah MS (Middellbare School) sekolah menengah tiga tahunan. Di masa sekolah itulah, konon, bakat seninya mulai tampak. Umar juga dikenal sebagai penggemar buku-buku Hikayat Lama yang banyak ditulis dalam bentuk tulisan Arab Melayu. Tidak jarang, oleh warga sekitar tempat tinggalnya, Umar sering diundang untuk mengisahkan kembali hikayat-hikayat tersebut. Dua di antara hikayat-hikayat itu adalah kitab Bustamam dan kitab Burung Bayan. Setelah menyelesaikan pendidikan pada sekolah MS, ia melamar kerja di Departemen Penerangan Ternate. Ia bersama Ismail Nachrawy dan Mahdy Aziz adalah segelintir fotografer profesional di masa itu. Ia juga membina persahabatan dengan fotografis dari kalangan pers di luar kalangan Deppen, seperti, Abubakar Arief, Hamid kotambunan Dan Faisal Aziz. Mereka menyalurkan minatnya atas seni fotografi dengan fasilitas yang serba terbatas, apa adanya, sesuai dengan revolusi yang baru saja berakhir. Dengan kondisi seperti inilah Umar melahirkan karya-karya fotogafisnya. Dengan menggunakan kamera: BASA, ROLEYFLEX dan LEICA berlensa 2,5 mm dan 35 mm, buatan Jerman ini, Umar belajar mengembangkan diri dengan meningkatkan kepekaan akan komposisi, harmonisasi dan ketajaman. Inilah modal utama dari proses kreatif yang dibutuhkan oleh seorang fotografer frofesional.
Berangkat dari bakat yang dimilikinya, Umar pun pergi ke Jakarta untuk memperdalam keahliannya di Akademi penerangan yang pada saat itu dipimpin oleh Parada Harahap, tokoh jurnalis kondang. Maka mengalirlah berbagai karya yang sebagian besar menceritrakan besarnya pengaruh aliran naturalis yang dikala itu terkenal dalam dunia fotografis.
Umar pernah memburu gambar di sepanjang garis pantai Falajawa dengan membidik panorama di jembatan Residen dan jembaran A. Yani. Gunung Api Gamalama, Danau Ngade, Cengkeh Afo, pohon cengkeh raksasa yang masih tersisa di punggung Kie Gamalam, merupakann sebagian dari karya monumental Umar yang masih sering dapat ditemui sebagai pajangan. Umar juga sering merekam berbagai ritual adat Kraton Ternatedari berbagai sudut.
Dalam perjalan karirnya, Umar beberapa kali mengikuti perlombaan fotografis, baik dalam skala Nasional maupun Internasional. Hasil potretnya, antara lain, “Anak Menggigit Pagar Kayu”, dan “Sunrise at Falajawa” pernah diikitsertakan dalam lomba Fotografis di Hawaii, Australia, dan Filipina.
Maka tidak heran, ada ribuan lembar foto bertebaran di rumah-rumah penduduk, kantor-kantor pemerintah dan berbagai hotel dan restoran. Karyanya menjadi monument yang tetap hidup, walau sang empunya telah menghadap Sang Khalik 1999. Ia meninggalkan seribu kenangan, sejuta harapan. Disayangkan, dewasa ini, banyak hasil foto dari Umar yang dipublikasi tanpa seizing ahli warisnya. Lebih disayangkan lagi foto-foto itu justeru sering dipublikasi oleh instansi-instansi resmi semisal, Dinas Pariwisata - yang sering mempublikasi hasil karyanya: Cengkeh Afo dan panorama Danau Laguna.
Pantai Falajawa Ngara Lamo Mejid Mutaqien
MENGENANG KEMBALI SANG FOTOGRAFER TERNATE
UMAR AMMARIE
Hampir seluruh perjalanan hidup Umar Ammarie di tumpahkan untuk merekam sejumlah sisi kehidupan masyarakat di Ternate dan pulau-pulau sekitarnya. Melalui kesaksian sebuah kamera dan kemampuan menangkap dinamika yang tengah tumbuh di masyarakat, beliau menelusuri sisi kehidupan tersebut dan merekamnya dalam gulungan seluloid. Karena menurutnya foto merupakan media yang berfungsi sebagai bahan ekspresi dari suatu kenangan. Umar sendiri di sebut sebagai “potret hidup yang terus mencari jatidirinya”. Namun menurut pengakuan dirinya, ia berpendapat “Fotografi adalah masalah kepekaan seorang manusia yang berusaha menangkap realitas dari lingkungannya”.
Ia lahir dari keluarga Abdulah Ammarie dan Fatma Albugis. Keduanya tinggal di Ternate. Sang ayah hanya pedagang kecil, sedangkan ibunya banyak berperan dalam ekonomi keluarga. Dengan bantuan sebuah vorno, ibunya membuat kue dan sekalugus sebagai penjual. Umar sendiri yang adalah anak ke 5 dari enam bersaudara, dilahirkan kembar. Saudara kembarnya Ali, meninggal sejak kanak-kanak.
Ia lahir pada tanggal 23 November tahun 1932 di kampung Falajawa 1. Yang teringat dari masa kecilnya ialah suasana kehidupan “kota’ Ternate. Falajawa yang terletak begitu strategis di sebelah timur kota dan diapit oleh dua dermaga, (dermaga A. Yani dan dermaga Residen) telah menjadi kawasan yang ramai sepanjang masa. Dengan gunung Tidore yang tegak berdiri di depan pulau Maitara di selatan, serta kesibukan kapal dan perahu hilir mudikdi depan, Falajawa menjadi kawasan yang begitu hidup. Dari sini Umar bisa menyaksikan saat-saat ketika matahari merah tembaga merekah dari balik punggung Halmahera. Di atas tanggul baton yang memanjang sepanjang pantai itu, Umar juga dapat mengikuti siluet camar dan burung-burung pantai dan beranjak pulang ketika gerak bulan merangkak perlahan dari tempat perpaduannya dan menyisakan kilau cahayanya beringsut-ingsut di muka laut. Umar juga telah terbisa menyaksikan lidah-lidah ombak kecil menjilati pangkal tanggul atau ketika mencumbu genit kaki-kaki kecil anak-anak pantai. Dengan latar belakang geografi seperti itulah Umar tumbuh. Rasanya sulit di sangkal kalau pengalaman seperti ini tidak turut mengasah nuansa artistik dari hasil-hasil karya fotografi Umar.
Di tahun-tahun sesudah proklamasi kemerdekaan, Umar memasuki sekolah MS (Middellbare School) sekolah menengah tiga tahunan. Di masa sekolah itulah, konon, bakat seninya mulai tampak. Umar juga dikenal sebagai penggemar buku-buku Hikayat Lama yang banyak ditulis dalam bentuk tulisan Arab Melayu. Tidak jarang, oleh warga sekitar tempat tinggalnya, Umar sering diundang untuk mengisahkan kembali hikayat-hikayat tersebut. Dua di antara hikayat-hikayat itu adalah kitab Bustamam dan kitab Burung Bayan. Setelah menyelesaikan pendidikan pada sekolah MS, ia melamar kerja di Departemen Penerangan Ternate. Ia bersama Ismail Nachrawy dan Mahdy Aziz adalah segelintir fotografer profesional di masa itu. Ia juga membina persahabatan dengan fotografis dari kalangan pers di luar kalangan Deppen, seperti, Abubakar Arief, Hamid kotambunan Dan Faisal Aziz. Mereka menyalurkan minatnya atas seni fotografi dengan fasilitas yang serba terbatas, apa adanya, sesuai dengan revolusi yang baru saja berakhir. Dengan kondisi seperti inilah Umar melahirkan karya-karya fotogafisnya. Dengan menggunakan kamera: BASA, ROLEYFLEX dan LEICA berlensa 2,5 mm dan 35 mm, buatan Jerman ini, Umar belajar mengembangkan diri dengan meningkatkan kepekaan akan komposisi, harmonisasi dan ketajaman. Inilah modal utama dari proses kreatif yang dibutuhkan oleh seorang fotografer frofesional.
Berangkat dari bakat yang dimilikinya, Umar pun pergi ke Jakarta untuk memperdalam keahliannya di Akademi penerangan yang pada saat itu dipimpin oleh Parada Harahap, tokoh jurnalis kondang. Maka mengalirlah berbagai karya yang sebagian besar menceritrakan besarnya pengaruh aliran naturalis yang dikala itu terkenal dalam dunia fotografis.
Umar pernah memburu gambar di sepanjang garis pantai Falajawa dengan membidik panorama di jembatan Residen dan jembaran A. Yani. Gunung Api Gamalama, Danau Ngade, Cengkeh Afo, pohon cengkeh raksasa yang masih tersisa di punggung Kie Gamalam, merupakann sebagian dari karya monumental Umar yang masih sering dapat ditemui sebagai pajangan. Umar juga sering merekam berbagai ritual adat Kraton Ternatedari berbagai sudut.
Dalam perjalan karirnya, Umar beberapa kali mengikuti perlombaan fotografis, baik dalam skala Nasional maupun Internasional. Hasil potretnya, antara lain, “Anak Menggigit Pagar Kayu”, dan “Sunrise at Falajawa” pernah diikitsertakan dalam lomba Fotografis di Hawaii, Australia, dan Filipina.
Maka tidak heran, ada ribuan lembar foto bertebaran di rumah-rumah penduduk, kantor-kantor pemerintah dan berbagai hotel dan restoran. Karyanya menjadi monument yang tetap hidup, walau sang empunya telah menghadap Sang Khalik 1999. Ia meninggalkan seribu kenangan, sejuta harapan. Disayangkan, dewasa ini, banyak hasil foto dari Umar yang dipublikasi tanpa seizing ahli warisnya. Lebih disayangkan lagi foto-foto itu justeru sering dipublikasi oleh instansi-instansi resmi semisal, Dinas Pariwisata - yang sering mempublikasi hasil karyanya: Cengkeh Afo dan panorama Danau Laguna.
Pantai Falajawa Ngara Lamo Mejid Mutaqien
Langganan:
Postingan (Atom)


